Perkembangan Seni Rupa Murni di Dunia NFT dan Potensinya
icon search
icon search

Top Performers

Mengenal Karya Seni Rupa Murni: Perkembangannya di Dunia NFT dan Potensinya

Home / Artikel & Tutorial / judul_artikel

Mengenal Karya Seni Rupa Murni: Perkembangannya di Dunia NFT dan Potensinya

Perkembangan Seni Rupa Murni di Dunia NFT dan Potensinya

Daftar Isi

Karya seni rupa murni (fine art), sebagaimana jenis karya seni rupa lainnya, adalah karya seni yang dihasilkan dari olah ekspresi jiwa seseorang yang kemudian diwujudkan melalui unsur-unsur visual, mulai dari titik, garis, tekstur, warna, hingga bidang.

Seperti diketahui, karya seni rupa sendiri bisa dinikmati lewat indra penglihatan yang dimiliki oleh manusia. Di samping itu, jenis karya  ini pun sudah muncul sejak lama, yang hadir berbarengan dengan aktivitas manusia di dunia, khususnya sejak masa prasejarah.

Berawal dari penciptaan deretan perkakas sederhana itu, kini manusia pun mulai mengaplikasikan estetika mereka dengan membuat berbagai bentuk barang yang lebih kompleks, seperti halnya karya seni rupa yang ada pada masa sekarang ini.

Adapun istilah seni rupa murni ini muncul kali pertama pada era Renaisans alias Abad Pembaharuan di benua Eropa, yakni sekitar abad 14—17 Masehi lalu. Istilah ini pun lantas identik dengan “seni tinggi”—sebagai pembeda dari istilah “seni rendah” yang disematkan kepada seni rupa terapan.

Perkembangan seni rupa murni pun terus berlanjut dengan kehadiran teknologi. Bahkan, jenis karya rupa yang satu ini pun sekarang juga telah berkembang di dunia Non-Fungible Token (NFT). Namun, bagaimana potensinya untuk masa depan? Simak uraian di bawah ini.

Apa Itu Karya Seni Rupa Murni?

Pada dasarnya, sebuah seni rupa murni adalah karya seni rupa yang memang hanya mengutamakan keindahan atau estetika alias sebagai medium ekspresi kreatif. Dalam arti, pada jenis karya seni rupa ini, fungsi bukanlah hal yang utama. 

Di sini, karya seni biasanya berfungsi hanya sebagai benda/barang yang dinikmati keindahan/estetikanya, yang bertujuan untuk memberikan kepuasan batin/rohani.  Oleh sebab itu, sejumlah unsur lainnya dalam karya ini hanya sebagai pelengkap.

Bagi para penggemar/kolektor karya seni, mereka bisa melihat gagasan hingga pandangan hidup sang seniman dari hasil karya seni rupa yang diciptakan. Itu berarti, sang seniman dalam hal ini tidak menghubungkan karyanya dengan kepentingan/tujuan praktis alias benar-benar murni untuk seni.

Adapun karya seni rupa murni ini contohnya bisa dilihat pada lukisan—sebuah karya seni rupa dua dimensi yang biasanya difungsikan sebagai pajangan. Kemudian, fine art juga dapat dilihat dari karya patung, yang dibuat dalam format tiga dimensi. Bentuk-bentuk estetis yang dihadirkan oleh karya seni rupa patung juga menjadi salah satu alasan seni rupa ini disebut sebagai karya murni. Pasalnya, ia hanya mengutamakan keindahan dan bukan barang yang punya kepentingan praktis.

Berikutnya, ada juga seni grafis/cetak, yang bisa menjadi contoh karya fine art. Adapun karya seni yang satu ini punya keunikan tersendiri, yakni bisa diperbanyak alias digandakan atau bahkan dilipatgandakan. Kemudian, juga ada seni kriya, yang merupakan karya seni buatan tangan manusia, dengan berbagai jenis, mulai dari kayu, kulit, hingga logam. Untuk contoh lainnya dari fine art adalah seni koreografi, relief, dan graffiti.

Lantas, apa perbedaan fine art ini dengan karya seni rupa terapan atau applied art

Untuk diketahui, karya seni rupa terapan (applied art) adalah karya seni yang punya fungsi dalam rangka membantu kehidupan manusia alias bukan sebatas pajangan. Contoh karya seni rupa terapan dapat ditemukan pada gerabah, arsitektur, atau juga keramik.

Sementara itu, perbedaan di antara dua jenis karya seni rupa ini adalah sebagai berikut.

  1. Seni rupa murni menonjolkan keindahan, sedangkan seni rupa terapan lebih mengutamakan kegunaan/fungsi dari karya.
  2. Seni rupa murni mengutamakan unsur batin/rohani penciptanya dengan menjangkau estetika, sementara seni rupa terapan lebih menjangkau unsur kepentingan praktis.
  3. Hasil dari seni rupa murni hanya dinikmati secara visual (panca indera, terutama penglihatan), sedangkan seni rupa terapan lebih punya fungsi dalam kehidupan meski juga punya nilai estetika.

Perkembangan Adopsi NFT oleh Fine Art atau Karya Seni Rupa Murni

Seperti sudah disinggung di awal tulisan ini, seni rupa murni juga sudah menyentuh ranah blockchain, khususnya dunia NFT. Industri karya fine art ini pun dengan cepat telah mengadopsi teknologi blockchain dalam rangka mengatasi masalah transparansi dan muasalnya.

Kehadiran NFT pun telah membuat adopsi teknologi terdesentralisasi secara luas di seluruh dunia seni yang sebelumnya tradisional ini. Adapun karya seni rupa pertama yang pernah diberi token dengan teknologi blockchain alias tokenisasi, yakni sebuah lukisan Andy Warhol berjudul “14 Small Electric Chairs,” senilai $5,6 juta. Galeri seni kripto di Inggris dan mitra teknologinya, Maecenas, kemudian melelang kepemilikan karya itu dan berhasil mengumpulkan $1,7 juta dalam penjualannya.

Menariknya lagi, lelang seni blockchain ini dijalankan sepenuhnya di jaringan Ethereum menggunakan teknologi smart contract. Dalam hal ini, pembeli bisa membeli kepemilikan lukisan Warhol dengan bitcoin (BTC), ether (ETH), atau koin ART. Proses ini pun dipandang sebagai penjualan karya seni rupa pertama yang sepenuhnya menggunakan NFT.

Kemudian, adopsi seni rupa ke ranah NFT juga menemukan hype kembali setelah terjualnya sebuah karya seni digital bertajuk “Everyday’s: The First 5000 Days” milik Beeple. Karya seni dalam bentuk NFT ini pada Maret tahun 2021 lalu dijual di Christie’s dan laku dengan harga $69 juta. Dampak dari nilai penjualan yang fenomenal atas karya tersebut, kini pengadopsian NFT terus meningkat dan ikut merambah ke ranah fine art

Di luar itu, meski karya seni rupa murni memang kerap kali menjadi incaran para penggemar/kolektor karya seni, tetapi para perupa alias seniman rupa seni murni ini tetap membutuhkan beberapa pertimbangan sebelum ikut terjun ke dunia NFT.

Hal ini terkait dengan harus adanya perubahan sikap dan cara pandang dari para fine art artist dan para kolektor seni konvensional mengenai NFT. Hal itu karena, melalui NFT, para kolektor sendiri tidak akan bisa lagi memandang sebuah karya seni hanya berdasarkan keterampilan dan bahan baku yang dipakai dalam pembuatan sebuah karya seni. Di sini, akan ada berbagai hal baru yang ternyata berpengaruh dalam menentukan nilai dari sebuah karya seni NFT.

Lebih jauh, bukan hanya mendigitalisasi seni rupa murni ke bentuk NFT, saat ini pun telah ada NFT marketplace yang memang khusus disediakan bagi para seniman rupa murni yang ingin terjun ke ekosistem NFT, yakni ArtOfficial—sebuah hasil kolaborasi dari galleriest Vito Schnabel dan biro konsultan VaynerNFT. Adapun Art Official diketahui telah meluncurkan koleksi NFT dari lukisan karya Francesco Clemente, seorang seniman rupa murni tersohor asal Italia. 

Siap untuk mencoba peruntungan di NFT?

Apakah artikel ini membantu?

Beri nilai untuk artikel ini

You already voted!
Artikel Terkait

Temukan lebih banyak artikel berdasarkan topik yang diminati.

Indodax Market Signal 19 September 2022
19/09/2022
Indodax Market Signal 19 September 2022

Indodax market signal menghadirkan Compound (COMP) pada peringkat teratas aset kripto terindikasi bullish di minggu ini! Baca selengkapnya disini.

19/09/2022
Cloud Mining Terpercaya hingga Rekomendasi Platform-nya

Saat ini, mining menjadi salah satu cara investasi pilihan banyak orang sehingga rekomendasi cloud mining terpercaya penting untuk diketahui.

Prediksi Shiba Inu Tahun 2022 & Faktor yang Mempengaruhinya

Belum lama ini, Shiba Inu (SHIB) mengalami kenaikan karena rencananya akan digunakan sebagai alat pembayaran. Lantas, bagaimana prediksi Shiba Inu tahun ini?